Berkah Agung Sang Guru Kehidupan


Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony. Kebahagiaan adalah ketika apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda katakan, dan apa yang Anda lakukan berada dalam harmoni. Mohandas Gandhi

Wisuda S-2 Teknik Industri – BINUS University. Bersama Bapak Taufik, S.T., M.M., Ph.D (Head of Industrial Engineering Study Program), 06 Dec 2017

Melakoni salah satu peran dalam hidup ini, kita tidak bisa lepas dari dua hal yaitu kebahagiaan dan penderitaan. Dua hal ini telah menjadi bagian abadi dalam kehidupan manusia. Tak heran bila sesepuh di Bali menamakan manusia yang memegang peran utama dalam kehidupan di maya pada ini dengan “Jeleme”, Jele kelawan melahe mepunduh, Jele = Keburukan (baca:Penderitaan) dan  Melah = Kebaikan (baca:Kebahagiaan) berdampingan adanya.

Menyaksikan kisah hidup masing-masing ternyata hidup ini adalah kombinasi apik dari kedua hal itu. Bila memang kedua hal ini tidak bisa dihindari lantas bagaimanakah caranya menghadapi agar kita mendapatkan manfaat dari keduanya?. Setiap orang tentu memiliki cara yang spesifik, saya memilih untuk menempatkan mereka menjadi dua orang Guru Agung yang memberikan banyak pelajaran hidup, untuk memudahkan saya  melakoni peran kehidupan kedepannya. Sebelum mendengarkan ajaran-ajaran luhur dari ke-2 guru Agung ini, marilah kita simak kisah berikut.

Tersebutlah seorang ibu tinggal disebuah desa yang asri, memiliki dua orang putra kesayangan, sepeninggal sang suami, kedua putranya dibesarkanya dengan susah payah, dengan perjuangan yang tiada henti, kedua anakknya akhirnya memiliki pekerjaan tetap, anak sulung berjualan es buah dan anaknya yang bungsu berjualan jas hujan. Ibu ini sayang sekali kepada kedua putranya, tidak bisa dia melihat salah satu dari mereka menderita. Untuk itu dia rajin sekali sembahyang ke Pura tiap hari mendoakan kedua putra tercinta.

Di Pura dia berdoa sambil menangis sesegukan, mohon agar anaknya dikaruniai  rejeki. Suatu hari Pinandita yang bertugas di Pura itu heran melihat Ibu ini setiap kali ke pura selalu menangis tiada henti, perasaan ibanya memaksa dia menghampiri sang Ibu, terus bertanya: “Ibu kenapa setiap berdoa ke pura Ibu menangis, adakah yang bisa saya bantu?”. Ibu: “ Saya punya dua putra, yang sulung jualan es buah ketika musim hujan dagangannya sepi, saya sedih. Yang bungsu jualan jas hujan, kalo musim kemarau jualannya sepi, saya sedih”. Sesaat sang Pandita termenung berusaha berempati dan mencari jalan keluar. Sambil tersenyum dia kemudian berkata: “Ibu.. bukankah bila musim hujan tiba, jualan putra bungsu Ibu akan laku, sehingga dapat uang banyak bisa ditabung untuk hidup dimusim kemarau dan dia bisa istirahat sambil menikmati hasil kerjanya, demikian pula, ketika musim kemarau tiba, jualan putra sulung Ibu yang laku, sehingga dia bisa mengumpulkan banyak uang yang juga bisa dinikmati pada saat musim hujan”. Ajaib sang Ibu kemudian tersadar, sejak itu dia tersenyum terus setiap kali datang ke Pura, berdoa dan bersyukur atas rejeki yang dianugrahkan kepada kedua putranya.

Dari cerita diatas kita bisa melihat bahwa kebahagiaan dan Penderitaan bisa berubah-ubah tergantung sudut pandang kita, tergantung pikiran kita. Hal sedana juga diungkapkan oleh Dale Carnegie, “Remember happiness doesn’t depend upon who you are or what you have; it depends solely on what you think” “Ingat kebahagiaan tidak tergantung pada siapa Anda atau apa yang Anda miliki; itu tergantung semata-mata pada apa yang Anda pikirkan”.

Penderitaan sesungguhnya adalah sebuah hadiah yang manis dari Hyang Widdhi, ibarat obat yang pahit hadir untuk menyembuhkan sebuah penyakit, ibarat pijatan yang sakit untuk mengembalikan urat yang keseleo, ibarat panas yang terik dan debu serta kelembaban yang tinggi untuk menghasilkan buah kurma yang manis dan lezat. Demikianlah penderitaan hadir memberikan kita berkah, pelajaran hidup yang penuh makna. Berikut ini adalah beberapa pelajaran utama dari Guru Penderitaan:

Pertama, penderitaan mendekatkan kita pada Hyang Widdhi, hal ini pun dialami oleh Bunda Kunti ketika Krishna bertanya, berkah apa yang engkau inginkan dariKu Ibu dari para pahlawan? Dengan tenang Ibu Kunti menjawab; “berikanlah hamba penderitaan” Kenapa Bunda..? Dengan penderitaan maka hamba akan selalu dekat denganMu.

Kedua, penderitaan membimbing kita untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan kita, sehingga kita mampu meningkatkan diri dengan membidik sasaran yang tepat, menemukan room for improvement

Ketiga, penderitaan meningkatkan kepekaan dan kepedulian kita pada orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemooh orang lain karena kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.

Keempat, penderitaan membuat kita bersatu, seperti kisah perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan negeri tercinta ini, demikian pula ketika salah seorang anggota keluarga sakit kita menjadi bersatu, atau salah seorang sahabat sakit, kita berkumpul dan bersatu untuk mencari solusi yang tercepat dan termudah untuk menyembuhkannya.

Kelima, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Ibarat siang akan bermakna karena ada malam, ibarat rasa pedas pada makanan yang membuat kita semakin bersemangat dan nikmat ketika makan. Demikian pula penderitaan hadir untuk memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya pada kita.

Keenam, penderitaan sebagai pembakaran karma negative, karma vasana baik pada kehidupan saat ini (prarabda karma phala),maupun dikehidupan sebelumnya (sanchita karma phala). Dan seterusnya.

Bagaimana dengan Kebahagiaan…? Pelajaran apa yang bisa kita petik dari Guru yang satu ini? Pertama, daya tahan tubuh meningkat sehingga vitalitas meningkat, produktivitas kita meningkat pula. Berikutnya, motivasi dan konsentrasi lebih tinggi, lebih mudah menyerap ilmu atau pelajaran sehingga pengetahuan kita bertambah, keahlian kita bertambah, peluang suksespun bertambah. Selanjutnya, energi meningkat, menjadi kreatif dan lebih efisien dalam setiap aktivitas, baik belajar maupun bekerja. Ke-empat, lebih percaya diri, dan memiliki energi positip. Penelitan pun menemukan (terutama penelitian oleh Martin Seligman di bidang positive psychology) bahwa orang-orang yang optimis jauh lebih sukses dan produktif. Seperti yang dikatakan “ketika Anda percaya bahwa Anda bisa atau tidak bisa, Anda benar!” Kelima, keputusan yang dihasilkan lebih baik, karena ketika kita bahagia, kita bisa berfikir menyeluruh bisa memanfaatkan segala potensi untuk memecahkan setiap persoalan.

Mungkinkah kita mengubah penderitaan menjadi suatu kebahagiaan?, membaca kisah diatas, mendengarkan wejangan Dale Carnegie dan Mohandes Gandhi pada awal tulisan ini, dapatlah kita simpulkan bahwa pusat kebahagiaan itu ada pada diri kita. Hal ini juga diamini oleh Aristotle : “Happiness depends upon ourselves” Kebahagiaan tergantung pada diri kita sendiri.  Demikian pula yang dikatakan Dalai Lama: Happiness is not something readymade. It comes from your own actions. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang siap pakai. Kebahagiaan berasal dari tindakan Anda sendiri.

Bisa dikatakan bahwa penderitaan itu dapat kita alihkan menjadi suatu kebahagiaan yaitu dengan merubah pola pikir atau sudut pandang kita, terhadap peristiwa yang membuat kita menderita. Kedepannya kita melatih diri untuk memandang penderitaan sebagai guru kita, menanggapinya secara positip dengan membangun kebiasaan berfikir, berbuat dan berkata yang baik dan benar (Tri Kaya Parisudha). Hal ini selaras dengan ajaran hukum karma, bahwa apapun yang kita alami tergantung karma kita maksudnya adalah tergantung dari apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan. Percis seperti nasehat Buddha: All that we are is the result of what we have thought. If a man speaks or acts with an evil thought, pain follows him. If a man speaks or acts with a pure thought, happiness follows him, like a shadow that never leaves him. Kita adalah produk dari apa yang kita pikirkan. Jika seseorang berbicara dan bertindak dengan pikiran jahat, penderitaan yang akan mengikutinya. Jika seseorang berbicara dan bertindak dengan pikiran yang murni, kebahagiaan yang akan mengikutinya, seperti sebuah bayangan yang tidak pernah meninggalkannya.

Melihat betapa penderitaan dan kebahagiaan keduanya memberikan kita manfaat yang demikian besar. Memberikan kita pelajaran yang sangat bernilai, sudah sewajarnya bukan kalo kita menyambut kedua Guru Kehidupan ini dengan keikhlasan, dan kerendahan hati dan dengan puji syukur pada Hyang Widdhi…..”Terinspirasi dari ajaran Rwa Bhineda”

Made Mariana, Ruwais, Abu Dhabi, UAE, 2011, Buku: “Titik-Titik Air di Padang Pasir, 2011”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s