Menaklukan Kemalasan


Sattwam sukhe sanjayati rajah karmani bharata, Jnanam awrtya tu tamah premade sanjayaty uta. Sifat Satwam (kebaikan) mengikat seseorang pada kebahagiaan, sifat rajas (nafsu) dengan kegiatan kerja, wahai Bharat, tetapi kebodohan (tamas), menyelubungi kebijaksanaan dan terikat untuk bermalas-malasan. BG XIV-9

Ada tiga kualitas yang selalu ada pada diri kita, yang membedakan satu orang dengan yang lainnya adalah komposisinya. Tiga kualitas (guna) itu dikenal dengan nama Tri Guna. Yaitu Sattwam (tenang/kebaikan), Guna Rajas (Aktif/Bekerja), Guna Tamas (lembam/ kemalasan).

Guna Sattwam melahirkan gagasan/ide yang baik, Guna Rajas mewujudnyatakan gagasan/ide baik ini. Guna Tamas ini membuat kita menjadi malas, tidak aktif, tidak produktif, miskin inovasi dan kreasi. Guna Tamas ini berguna ketika kita memerlukan istirahat setelah lelah melakukan aktivitas, atau ketika kita sedang melakukan proses penyembuhan.

Ketiga kualitas di atas tidak bisa kita hilangkan, karena merupakan bagian dari diri kita, namun kita mesti mengendalikannya, kualitas rajas dan tamas ini dengan menguatkan guna sattwam. Bila kemalasan ini tidak dikendalikan dia akan menjerumuskan kita ke jurang kesengsaraan dan kegagalan. Hidup bermalas-malasan terkadang tampak menarik, namun sesungguhnya tidak ada karya-karya agung yang tercipta karena malas, seperti dikatakan oleh Anne Frank (seorang penulis berkualitas dari Jerman, karyanya yang terkenal; The Diary of Young Girl : “ Laziness may appear attractive, but work gives satisfaction” Kemalasan mungkin tampak menarik, tetapi kerjalan yang memberikan kita kepuasan.

Selain kegagalan, kesengsaraan, kemalasan juga berbuah kebodohan. Seperti yang dijelaskan Aristoteles (filsuf Yunani) ketika menjawab pertanyaan  muridnya yang malas: “Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak memiliki ketekunan untuk membaca, dan tidak mempunyai kesabaran terhadap kelelahan serta kejenuhan belajar”. Dengan ringan Sang Filsuf berkata: “Kalau demikian tidak ada jalan lain bagimu kelak, kecuali harus sabar menghadapi KESENGSARAAN dan KEBODOHAN”.

Pertanyaan kemudian adalah bagaimanakah caranya mengatasi kemalasan itu…? Leluhur kita sejak dulu mengajari kita bahwa kemalasan itu tidaklah baik, mereka mengajarkannya melalui cerita-cerita rakyat seperti Bawang Merah dan Bawang Putih, I Cupak dan I Gerantang, dan yang lainnya, yang pada intinya menceritakan bahwa mereka yang tekun berjuang, tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan dan rajin bekerja dan belajar akan membawa pada kebahagiaan hidup.  Kisah/cerita membantu kita memahami kehidupan ini, mungkin itu alasan kenapa hampir di setiap tempat kita temukan proses pengajaran ini. Untuk memahami bagaimana caranya untuk mengatasi kemalasan, marilah kita simak kisah berikut.

Tersebutlah sebuah keluarga kaya  raya yang sangat bijak yang bernama  Agung,  tinggal di sebuah kota modern. Keluarga ini memiliki seorang putra  bernama Bayu dan seorang putri bernama Karuni.  Suatu hari dia ingin memberikan pelajaran pada Bayu yang pemalas. Dia memberikan tugas kepada putra nya untuk pergi keluar  bekerja mendapatkan uang, kalo dia gagal maka dia tidak akan mendapatkan makan malam.

Sang anak tidak berani membantah, kemudian dia pergi menghadap ibunya, sambil berlinang air mata dia minta tolong kepada Ibunya. Sang Ibu merasa iba melihat tetesan air mata putra kesayangannya itu. Diberikanlah selembar uang sepuluh  ribuan kepada putranya. Ketika hari mulai gelap sang Ayah memanggil Bayu untuk memperlihatkan hasil yang dia peroleh hari itu, Bayu menyerahkan selembar uang sepuluh ribu tersebut. Sang Ayah mengetahui uang itu bukan hasil keringat Bayu, Beliau memerintahkan Bayu untuk melemparkan uang itu ke sungai, dengan patuh Bayu melakukannya. Kemudian Pak Agung mengirim istrinya ke rumah mertuanya untuk sementara.

Keesokan harinya Pak Agung memberikan tugas yang sama pada Bayu, Bayu pergi menemui kakak perempuannya, sambil tersedu-sedu menangis dan menceritakan akan tugas yang diberikan sang Ayah padanya. Karena sayangnya kemudian Karuni merelakan sebagian uang tabungannya kepada adik satu-satunya. Ketika sang surya mulai masuk ke peraduannya, Sang Ayah kembali memanggil Bayu untuk memperlihatkan hasil kerjanya hari itu. Dengan cepat bayu mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya, Sang Ayah tahu dari mana Bayu mendapatkan uang itu, maka dia kembali memerintahkan anaknya untuk membuang uang itu ke sungai dekat rumah mereka, dengan patuh Bayu melakukannya. Sang Ayah mengirim putrinya Karuni ke rumah Pamannya untuk sementara.

Hari ketiga lagi Pak Bayu memberikan tugas yang sama pada Bayu, saat ini Bayu tidak punya siapa-siapa lagi yang membantu, dia tidak punya pilihan, pergilah kemudian dia ke pasar untuk mencari pekerjaan. Beruntung dia bertemu dengan seorang Ibu yang membutuhkan pertolongan membawakan barang belanjaanya ke rumah dengan imbalan uang 20 ribu. Alangkah senangnya hati Bayu, kemudian dia mengangkat barang itu satu persatu, hingga habis, bahunya merah-merah, badannya pegal-pegal luar biasa.

Ketika mentari mulai tenggelam di ufuk Barat bayu menyelesaikan pekerjaanya, begitu sesampainya di rumah dia teringat kalo ayahnya nanti meminta untuk melemparkan uang itu, ia membayangkan bagaimana sulitnya dia mendapatkan uang itu, sehingga sebelum sang Ayah memintanya untuk melemparkan uang itu, sambil terisak dia berkata; “Ayah, badan Bayu pegal-pegal, bahu Bayu lecet-lecet dan memerah untuk mendapatkannya, bagaimana tega ayah meminta Bayu untuk melemparkannya ke sungai”.  Pak Agung tersenyum, Dia mengatakan bahwa orang merasakan rasa sakit hanya bila hasil kerja kerasnya  sia-sia. Pada dua kesempatan sebelumnya ia dibantu oleh ibu dan kakak perempuannya dan karena itu tidak memiliki rasa sakit ketika melemparkan uang itu ke sungai. Bayu kini menyadari nilai sebuah kerja keras. Dia bersumpah tidak akan menjadi malas dan menyimpan kekayaan ayah. Sang ayah menyerahkan kunci tokonya untuk putra semata wayangnya dan berjanji untuk membimbingnya selama sisa hidupnya.

Saudaraku, banyak diantara kita seperti Bayu, yang selalu meminta bantuan orang lain ketika menemukan kesulitan, tidak berusaha untuk mengerjakannya sendiri, ini terjadi karena energi kemalasan (tamas) sangat kuat membelenggu. Cerita diatas juga memberikan penjelasan kenapa para perantau cendrung lebih gigih dalam berjuang dari pada para pribumi sehingga mereka mampu meraih suksesnya, karena mereka diharuskan untuk berdikari (berdiri di kaki sendiri).

Salah satu contoh kisah sukses seorang perantau, Made Ngurah Bagiana pria kelahiran Singaraja,12 April 1956, pengusaha Burger, Edam Burger. Made yang tanpa modal apa-apa datang merantau ke Jakarta awalnya tanpa tujuan, sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan dan kondektur bus PPD. Apa rahasianya? “Seperti filosofi saya pada awalnya, saya menjalani hidup ini seperti air. Tak ada rencana muluk ke depan. Yang penting saya melakukan yang terbaik dari waktu ke waktu. Dan ternyata strategi saya membuahkan hasil ,” cerita Made pada website bisnisnya yang kini telah memiliki ribuan outlet di Indonesia.

Kerja keras, semangat juang yang tinggi dan tidak mudah menyerah, membuat deretan nama berikut bersinar terang bahkan di negeri orang yang selalu membuat hati ini berdecak kagum. Dr. Sehat Sutarja, orang  Indonesia yang sukses berbisnis di Amerika, CEO, chairman, and co-founder of Marvell Technology Group. Prof. Dr. Mezak Arnold Ratag, Penemu Planetary Nebula Cluster, Josaphat T.S Sumantyo, Penemu Radar 3 Dimensi. Dr. Johny Setiawan, Penemu Planet Baru HIP 13044b, Dr. Warsito, Penemu Alat Pemindai (ECVT) 4 Dimensi.  Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, Penemu Membran Sel Bahan Bakar. Prof. Dr. Khoirul Anwar pemilik paten di Jepang atas sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Dr. Yogi Ahmad Erlangga, Penemu rumus matematika berdasarkan persamaan Herlmholtz guna pencarian sumber minyak bumi. Ir. R. Mulyoto Pangestu, Penemu Teknis Ekonomis Pembekuan Sperma Hewan.

Menyadari bahwa ketika kemalasan teratasi oleh kerja keras dan semangat juang yang tinggi (rajas) yang didorong oleh keinginan yang mulia (sattwam) akan membawa kita pada kebahagiaan (sukses) seperti orang-orang hebat di atas, sudah wajar bukan kalo kita harus berjuang tanpa mengenal menyerah untuk mengatasinya.

Made Mariana/ 28 Agustus 2011, Ruwais, Tilem, terinspirasi dari ajaran Tri Guna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s