Ambillah Tanggung Jawab, Hadiahnya Kekuatan Luar Biasa


 

Tanggung jawab yang besar disertai dengan keinginan mulia melahirkan kekuatan yang luar biasa.

***

Pekerja Migran yang Tangguh

Saya sangat kagum menyaksikan ketangguhan para pekerja migran dari Pakistan, India, dan Philipina. Mereka mampu bertahan dalam situasi yang sangat sulit karena Timur Tengah memiliki iklim yang sangat ekstrem. Ketika musim panas, udara menjadi sangat panas, hingga mencapai lebih dari 50 derajat celcius. Ditambah dengan tingkat kelembapan yang tinggi dan badai. Banyak pekerja yang pingsan bahkan ada yang sampai meninggal karena dehidrasi. Keadaan sulit ini tidak membuat semangat kerja mereka surut, walaupun pendapatan mereka tidaklah besar jika dibandingkan dengan risiko yang harus dihadapi.

Didorong rasa penasaran yang tinggi akan kekuatan mereka dalam menjalani kesulitan hidup, saya bertanya kepada mereka. Dan hampir semuanya mengatakan bahwa rasa tanggung jawablah yang menjadi sumber kekuatan bagi mereka. Seperti, misalnya, anak/adik sedang kuliah di negerinya, orangtuanya di rawat di rumah sakit, dan lain-lain. Atau ingin mewujudkan mimpi-mimpinya seperti punya usaha sendiri, punya rumah, punya lahan pertanian/kebun sendiri.

Kekaguman saya semakin besar ketika saya transit di Bahrain. Saya melihat sekelompok perempuan dan seorang lelaki bernama Pak Asep yang tidak bisa berbahasa Inggris dan bahasa Arab, tapi nekat berangkat bekerja merantau ke negeri orang. Mereka tertahan di bagian imigrasi, karena tidak bisa menjawab pertanyaan para petugas imigrasi Bahrain, yang menanyakan identitas dan tujuan mereka datang ke sana. Pak Asep, sambil terisak, memohon pertolongan kepada saya untuk menghubungi temannya yang sudah ada di Bahrain. Untunglah saya berhasil menghubungi temannya itu sehingga dia yang sudah terjebak lebih dari sehari tanpa makan dan minum di dalam airport itu, memiliki harapan untuk bisa masuk ke negara Bahrain.

Sambil menunggu waktu keberangkatan, saya menyempatkan diri untuk bercakap-cakap dengan mereka. Dari hasil percakapan itu adalah bahwa ada beberapa alasan yang melatari kenekatan mereka, seperti kesulitan ekonomi dan rasa tanggung jawab untuk memberikan kehidupan yang layak untuk keluarga, keinginan untuk meningkatkan diri, dan keinginan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga.

 

TKW Menjadi Dosen

Salah satu kisah dari seorang wanita yang nekat merantau ke negara orang, demi sebuah cita-cita, dituturkan Nuryati Solapari. Berbekal ijazah SMA, wanita asal Banten itu nekat menjadi TKI, dan bekerja sebagai pengasuh anak di Saudi Arabia—dengan harapan dapat mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Setiap ada waktu lowong di sela-sela mengasuh anak, dia menyempatkan diri untuk membaca dan mempelajari buku-buku mata pelajaran saat di SMA yang dibawanya ketika berangkat. Sepulang dari Saudi Arabia, Nuryati masuk ke Fakultas Hukum Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang, Banten. Semangat juang yang membaja untuk mewujudkan mimpinya, membuatnya belajar tanpa kenal lelah, hingga berhasil meraih gelar Sarjana dengan predikat cum laude. Nuryati kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 hingga jenjang doktoral. Dan kini, selain menjadi dosen di almamaternya, Fakultas Hukum di Untirta, Nuryati juga menjadi ketua Asosiasi Purna TKI Provinsi Banten dan menjadi staf Migrant Institute yang aktif memberikan pengarahan kepada para TKI.

 

Pentingnya Rasa Tanggung Jawab

Merenungi kejadian-kejadian di atas, batin saya seakan berbisik, “Ketika rasa tanggung jawab dan keinginan mulia hadir dalam diri, kekuatan di dalam diri tumbuh mekar tak terbatas”. Mungkin ini juga yang membuat orang-orang yang terlahir dengan keterbatasan, kemudian mampu menjadi orang-orang sukses seperti, Mangku Pastika (gubernur Bali), Li Ka Shing (orang terkaya nomor 11 di dunia menurut majalah Forbes 2011), Lee Myung-Bak (presiden Korea Selatan).

Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi adalah rasa tanggung jawab. Rasa tanggung jawab inilah yang mendorong mereka untuk tampil “sempurna”, tanpa peduli pada hambatan apa pun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang memiliki kinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimal, cenderung melimpahkan kesalahannya kepada siapa saja. Rasa tanggung jawab melahirkan keberanian dan keyakinan diri untuk melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban.

 

Keberanian dan Keyakinan

Mengarungi samudera kehidupan yang penuh dengan lika-liku ini memang dibutuhkan keberanian untuk melangkah dan keyakinan untuk berhasil. Hal ini juga diyakini Andrew Jackson (presiden Amerika ke-7) yang mengatakan bahwa, “Musuh yang paling berbahaya di atas dunia adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan”. Senada dengan Andrew, Pak Gede Prama mengatakan, “Keberhasilan itu berawal dari keyakinan. Dan kita bisa mengubah banyak sekali hal lewat keyakinan”.

Keyakinan yang kuat membuat kita tidak mudah menyerah dalam melewati setiap tantangan dan rintangan yang menghadang. Jika diperhatikan, dalam kehidupan ini banyak orang yang memiliki bakat yang bagus, cerdas, dan brilian, tapi tidak berhasil melejit dalam kariernya, karena kurangnya keyakinan, usaha, dan kerja keras.

Kisah-kisah para pekerja migran di atas menjadi bukti bahwa orang-orang dengan modal terbatas—tapi karena rasa tanggung jawab yang besar—melahirkan keyakinan yang kuat untuk berhasil dalam menjalani kewajiban, tidak mudah menyerah dengan keadaan, dan diwujudkan dengan usahanya yang luar biasa dapat mengubah hidup mereka menjadi berbeda dengan yang lain.

 

Hukum Sebab Akibat

Terlahir dari keluarga petani, memberi saya kesempatan untuk menimba ilmu dari alam. Salah satunya adalah hukum sebab akibat; apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Demikian pula dalam kehidupan ini; apa pun yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan, itulah yang kita petik. Hukum ini sering disebut hukum sebab akibat atau hukum karma. Ajaran ini juga mengajarkan kepada kita bahwa, kitalah yang bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri. Sebagai pribadi, kita bertanggung jawab atas kesuksesan diri kita sendiri. Sebagai kepala keluarga, kita bertanggung jawab akan kesejahteraan keluarga kita. Sebagai generasi penerus, kita bertanggung jawab akan kelestarian warisan leluhur kita, baik berupa budaya, nilai-nilai luhur, maupun benda-benda bersejarah. Sebagai seorang teman, kita bertanggung jawab untuk menjaga keeratan hubungan seperti yang diungkapkan oleh Khalil Gibran, “Friendship is always a sweet responsibility, never an opportunity. Persahabatan selalu merupakan tanggung jawab yang manis, tidak pernah merupakan sebuah kesempatan. Sementara menjaga kelestarian alam dan sumber daya di dalamnya adalah tangung jawab kita sebagai penghuni planet bumi ini. Rasa tanggung jawab ini harus kita wujudkan dengan cara-cara positif dalam setiap aktivitas hidup kita.

 

Membiasakan Mengambil Tanggung Jawab

 Untuk mewujudkan hal-hal yang positif, kita harus membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang positif. Salah satunya adalah dengan mengembangkan nilai-nilai positif dalam diri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang mematikan, dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan kreatif. Anthony menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif, dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Misalnya, mengganti kata, “saya tidak bisa,” menjadi “saya bisa!”.

Membiasakan hal-hal yang positif dimulai dari pikiran, kemudian perkataan, selanjutnya prilaku sehari-hari. Jangan pernah menunda-nunda untuk melakukan kebaikan, karena godaan akan datang setiap saat, baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Maka kita perlu kekuatan untuk menghancurkan semua penghalang tersebut. Sebab kekuatan itu muncul ketika kita mengambil tanggung jawab. Bahkan menurut Winston Churchill (mantan perdana menteri Inggris), “The price of greatness is responsibility. Nilai sebuah kehebatan adalah tanggung jawab.

Tanggung jawab ini pula menghasilkan kemauan yang gigih untuk belajar dan bekerja. Seperti yang diungkapkan Mohandas Gandhi bahwa  “Strength does not come from physical capacity. It comes from an indomitable will. Kekuatan tidak datang dari kapasitas fisik. Kekuatan datang dari kemauan yang gigih.

Berbicara mengenai tanggung jawab dan kekuatan dalam film Spiderman, Uncle Ben, paman dari Peter Parker (Spiderman) berpesan kepada Spiderman: “With great power comes great responsibility.” Dengan kekuatan yang besar datang tanggung jawab yang besar. Dari kejadian-kejadian yang saya tuliskan di atas, saya berkesimpulan bahwa tanggung jawab yang besar disertai dengan keinginan mulia melahirkan kekuatan yang luar biasa.

(Dari Buku: Titik-Titik Air di Padang Pasir karya: Made Mariana).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s