Manisnya buah Kesabaran


… Kesabaran hati itulah merupakan kekayaan yang sangat utama; itu adalah sebagai emas dan permata. Orang yang mampu memerangi kekuatan hawa nafsu, yang tidak ada melebihi kemuliaannya…… (Sarassamuccaya sloka 93)

***

Sedari kecil saya sering bertanya-tanya dalam diri kenapa sih setiap kali mau berangkat merantau, Ibu selalu berpesan, “Gung..hidup di gumin anake de nyan engsan teken sabar nah” Nak..hidup di negeri orang jangan lupa dengan sabar ya…, Setelah merantau diberbagai tempat baik di dalam negeri maupun di luar negeri dan setelah merenung yang dalam tenang kesabaran ini, ternyata apa yang Ibunda pesankan adalah sesuatu yang luar biasa, Ibu telah membekali kami dengan sebuah senjata ampuh yang memudahkan kami menjalani kehidupan di perantauan.

Kesabaran adalah rahasia menuju sukses

Sukses tercapai ketika suatu kerja/aktivitas dilewati, dalam melakukan aktivitas banyak godaan dan rintangan, mulai godaan dari dalam diri yang berupa; kemalasan, ketamakan, kemarahan, irihati, mabuk pada hasil dari aktivitas, keinginan yang tak terkendali untuk meraih sukses pada aktivitas itu. Semua itu menguras energi kita, menguras waktu kita… kok bisa?

Coba bayangkan, ketika kita sedang malas maka penyelesaian pekerjaan/tugas jadi telat karena waktu tidak pernah berhati mengalir, ketika kita sedang marah…  waktu kita banyak terbuang saat marah, saat menenangkan diri, saat mengembalikan konsentrasi atau focus, demikian pula ketika kita sedang loba, irihati atau mabuk pada hasil, tanpa sadar mereka merampok waktu dan energi kita yang sangat berharga. Bagaimana Kemarahan ini bisa ditaklukkan oleh kesabaran,dalam Sarassamuccaya sloka 95  Bhagavan Wararuci menuliskan: Jika ada orang yang berhasil meninggalkan kemarahan hatinya berdasarkan kesabaran, seperti ular yang meninggalkan kulitnya, karena semua itu tidak akan kembali lagi. Orang yang demikian keadaannya disebut berbudi luhur dan patut disebut manusia sejati”.

Godaan dari luar juga tidak kalah hebatnya, teman-teman yang pesimis seringkali menyurutkan semangat kita, manusia-manusia sulit seringkali menguji daya tahan kita, perbedaan budaya, perbedaan cuaca dan iklim, perbedaan tingkat pengetahuan dan profesi seringkali juga menimbulkan konflik yang tidak nyaman ketika kita gagal beradaptasi.

Untuk membabat semua hambatan dan rintangan itu diperlukanlah senjata maha ampuh yang berupa kesabaran. Kesabaran membuat kita mampu berfikir jernih, sehingga kreativitas dan kecerdasan jadi optimal, maka output pekerjaanpun menjadi optimal. Tak heran bila Napoleon Hill mengatakan:  “Patience, persistence and perspiration make an unbeatable combination for success”  “Kesabaran, ketekunan dan keringat (kerja keras) membuat kombinasi tak terkalahkan untuk sukses”

Kesabaran membuat hidup kita menjadi indah,

Hidup ini sesungguhnya adalah kumpulan dari kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa sehari-hari, yang berjalan secara kontinyu. Peristiwa terjadi baik di dalam keluarga, di masyarakat, di pekerjaan, di sekolah maupun di tempat-tempat lainnya. Perisitwa ini mewarnai kehidupan kita, ia membentuk lukisan kehidupan yang indah, ketika kita mampu menguasai hawa nafsu dengan kesabaran. Keindahan itu tampak pada senyum manis sang istri dan orang tua,  nyanyian merdu anak-anak, canda ria sahabat dan kerabat, gelak tawa rekan kerja. Maka keluarga, sekolah, tempat kerja dan masyarakat menjadi  tempat yang sangat indah, seperti di Sorga. Dan Sebaliknya pula bila kita tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, maka mereka semua berubah menjadi neraka kehidupan, demikian guru kehidupan bertutur sepanjang hari pada kami. Kesabaran membentuk lukisan kehidupan menjadi begitu indahnya.

Untuk memahami hal ini mari kita simak cerita berikut ini:

Pak Made seorang manager di sebuah perusahaan swasta yang terkenal, memiliki seorang putra yang bernama Agung yang sedang duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Seperti biasa sebelum berangkat kerja sang istri telah menyiapkan sarapan bubur ayam buat suami dan putranya tercinta. Karena hari telah siang, sang istri menyiapkan sarapan dengan buru-buru, tanpa sadar ia memasukkan garam terlalu banyak  pada mangkok mereka. Agung putra semata wayang mereka ngambek, tanpa sengaja menyentuh teh yang terhidang dimeja makan, teh tumpah mengotori seragam Pak Made. Pak Made kesal pada istri dan anaknya, ia menumpahkan kekesalannya pada Agung. Agung putra kesayangan mereka menangis sedih. Sang istri yang merasa bersalah sambil menangis berusaha menenangkan putra dan suaminya, tanpa sadar waktu terus berlalu. Agung ketinggalan jemputan, Pak Made bergegas mengganti seragamnya, sambil bermuram durja mengantar anaknya ke sekolah, padahal saat itu dia punya janji rapat dengan customer utama yang sangat menentukan nasib perusahaannya kedepan. Pak Made datang terlambat satu jam lebih karena jalanan macet selepas mengantar anaknya ke sekolah. Pelanggan utama ini sudah tidak sabar menunggu, mereka kemudian pergi. Pak Made dimarahi oleh Direkturnya. Akibat tragedi ketidaksabaran pagi itu, keluarga Pak Made menjadi sebuah neraka.

Bayangkan bila Pak Made sabar dan ikhlas menerima kesalahan istri dan anaknya serta dengan cepat bergegas mengganti seragam. Agung tidak akan ketinggalan jemputan dan berangkat dengan senyum. Sang Istri tidak akan menangis malah tersenyum manis mengiringi keberangkatan mereka. Pelanggan tidak akan pergi, Direktur tidak akan memarahinya, bahkan mungkin memberikan apresiasi karena pelanggan senang. Tidakkah ini merupakan suatu keindahan..? Tidak salah bila Bhagavan Wararuci mewejangkan bahwa kesabaran itu ternyata merupakan harta utama.

Melatih Kesabaran

Bila kesabaran itu demikian utama, bagaimanakah caranya melatih kesabaran..? Berikut tips yang mungkin bermanfaat :

  1. Berfikirlah positip atas setiap peristiwa, fokuslah pada pembelajaran, terima orang dan situasi apa adanya
  2. Sadarilah bahwa segala sesuatu di alam samesta ini tidak ada yang kekal, berubah setiap saat. Termasuk kesulitan, kepedihan, kegagalan, tidak kekal mereka datang dan pergi membuat kita menjadi kuat seperti vaksin yang dibutuhkan saat imunisasi anak-anak untuk menguatkan tubuh mereka
  3. Sadarilah bahwa setiap orang dari kita memiliki kekurangan, pernah melakukan kesalahan, terimalah dengan ikhlas kekur angan dan kesalahan orang lain.
  4. Sadarilah bahwa segala kesulitan yang terjadi itu adalah buah karma kita, yang harus kita tuntaskan, dan akan berulang bila tidak diselesaikan.
  5. Sadarilah bahwa tidak semua kesulitan itu buruk, banyak dari mereka membuat kita menjadi lebih cemerlang seperti amplas dan gerinda yang membuat batu menjadi permata yang indah.

Melatih diri untuk sabar dan membiasakan diri untuk sabar tidaklah semudah mengatakannya, namun dengan tekad yang kuat pasti kita akan mampu mewujudkannya. Ibarat  Buah Kurma yang manis tumbuh di daerah gurun yang panas, kering, lembab dan berdebu. Demikian pula hasil yang gemilang akan mampu kita raih bilamana kita sungguh-sungguh untuk menjalaninya. Untuk mengakhiri tulisan ini perkenankan saya mengutip ungkapan Jean Jacques Rousseau: Patience is bitter, but it’s fruit is sweet. Kesabaran itu pahit, namun hasilnya manis. (Made Mariana/Abu Dhabi – UAE) “Titik-Titik Air di Padang Pasir”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s