Orang Hebat Terlahir dari Kerja Keras


kerja keras, sumber:fotografindo.com

kerja keras untuk makan, sumber:fotografindo.com

…Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran, tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu “kristalisasi keringat (kerja keras)…. (Bung Karno, Pidato HUT RI ke-IV)

***

Kerja, Kunci Hidup

Sebagai manusia kita tidak bisa lepas dari aktivitas. Sesungguhnya aktivitas inilah yang merupakan ciri dari kehidupan. Untuk menjaga tubuh agar tetap hidup, kita perlu beraktivitas: makan, minum, berolahraga, rekreasi, mandi, istirahat. Bukti sederhana dari pernyataan di atas adalah: organ jantung. Jantung tidak pernah berhenti bekerja walaupun kita sedang tidur—bayangkan jika jantung berhenti bekerja, maka darah tidak akan mengalir ke seluruh tubuh. Tidak ada oksigen yang terdistribusi ke dalam sel-sel tubuh, tidak ada gas-gas racun yang ke luar dari dalam tubuh, cepat atau lambat tubuh akan mati. “Guru alam” member contoh bahwa dia terus berputar untuk memberikan kehidupan pada semua makhluk. Perputarannya mengakibatkan adanya angin (udara yang bergerak) yang dibutuhkan untuk kehidupan kita.

Jadi, aktivitas atau kerja adalah kunci untuk menjaga kelangsungan hidup. Bila demikian bisakah kita katakan pula bahwa kerja juga menjadi rahasia bagi mereka-mereka yang sukses dalam hidupnya? Melihat deretan nama-nama tokoh yang sukses seperti, Ted Williams, Luciano Pavarotti, Michael Jordan, Winston Churchill, Vladimir Horowitz, I Ketut Liyer, atau Gede Prama, selalu saja diri ini bertanya-tanya apa gerangan rahasia orang-orang hebat itu? Terbersit pemikiran bahwa, mungkin saja mereka menjadi hebat karena memiliki hadiah spesial dari Tuhan. Benarkah demikian?

 

Sukses Karena Berlatih

Ted Williams diberkati bakat alami melebihi siapa pun. Ia meraih 19 kali All Stars, 2 kali American League Most Valuable Player. Dan untuk menjadi seorang pemain baseball professional, ia harus berlatih mati-matian seperti orang lain. Sementara Luciano Pavarotti tokoh legenda tenor dan opera dari Itali, dilahirkan dengan suara yang indah tapi ia tetap belajar bernyanyi.

Demikian pula Michael Jordan, pemain basket terbaik sepanjang zaman dengan segudang prestasi. Dia mampu menjadi pemain top dunia setelah bekerja keras berlatih tiada henti. Tentang bagaimana ia dapat meraih kesuksesannya selama ini, Michael Jordan berpesan: “I’ve always believed that if you put in the work, the results will come. Saya selalu percaya bahwa jika Anda mengerjakannya, hasilnya pasti datang. Di lain kesempatan dia juga berpesan: “Obstacles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it, go through it, or work around it. Hambatan tidak harus menghentikan Anda. Jika jalan Anda terhalang sebuah dinding, jangan berbalik dan menyerah. Temukanlah cara untuk mendakinya, hadapilah, dan selesaikanlah.

Hal yang tidak jauh berbeda terjadi pada Winston Churchill, seorang orator yang luar biasa. Churchill memperoleh keahliannya dengan berlatih tanpa henti. Pada usia 12 tahun, dia termasuk anak dengan nilai terendah di kelasnya. Pada tahun 1895, Churchill lulus dari Royal Military College. Dan tahun 1940 menjadi perdana menteri Britania Raya. Tahun 1953 menerima penghargaan nobel dalam bidang sastra. Salah satu pidatonya yang terkenal: “Never give up, never give up, never give up!!!” (Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan pernah menyerah), mengajak kita untuk selalu tekun berusaha meraih apa yang kita cita-citakan. Bekerja dan bekerja, belajar dan belajar, berlatih dan berlatih—tiada henti.

Tentang berlatih Vladimir Horowitz, salah satu pemain piano terbaik abad 20 mengatakan: If I don’t practice for a day, I know it. If I don’t practice for two days, my wife knows it. If I don’t practice for three days, the world knows it. (Jika saya tidak berlatih selama satu hari, saya tahu itu. Jika saya tidak berlatih selama dua hari, istri saya tahu itu. Jika saya tidak berlatih selama tiga hari, dunia tahu itu).

 

Mengubah Bakat Menjadi Keahlian

Memiliki bakat yang baik tidak menjamin seseorang dapat meraih sukses, jika dia tidak mau mengembangkan kemampuan alami yang dimilikinya dan mengubah bakat tersebut menjadi suatu keahlian atau keterampilan. Kalau direnungkan, memang keterampilanlah yang membuat orang bisa bertahan, bisa diterima walaupun berbeda bangsa, berbeda agama, berbeda budaya. Keterampilan ini yang membuat beberapa negara menjadi tersohor seperti Jepang, Jerman, Amerika, dan lain-lain.

Berbicara mengenai keterampilan, saya jadi teringat akan percakapan dengan seorang teman dari Jepang ketika kami mengais rezeki di salah satu perusahaan negara milik Kerajaan Saudi Arabia di Al-Jubail. Teman saya itu diundang untuk memberikan pengajaran dalam mengoperasikan JSW Reciprocating Compressor yang diimport dari negeri saya. Beliau yang sudah tua itu hanya lulusan SMA; bahasa Inggrisnya sangat kacau tapi ia sangat jago menangani segala persoalan compressor; sangat dihormati oleh para engineer dan para manajer. Karena penasaran, saya bertanya tentang rahasia beliau. Sambil tersenyum dan dengan bahasa Inggrisnya yang putus-putus, beliau mengatakan: “Experience, hardworks, and practices, I have 30 years operating this compressor.” Pengalaman, kerja keras, dan praktik. Pengalaman dan praktik inilah yang membentuk keterampilan.

Hal ini pun yang dilakukan I Ketut Liyer dari Banjar Pengosekan Kaja-Ubud, Bali. Belajar sendiri tentang ilmu ramalan warisan leluhurnya berbuah keterampilan yang hebat. Kepiawaiannya membaca garis tangan Elizabeth Gilbert, penulis Eat, Pray and Love yang kemudian difilmkan oleh Hollywood—dengan pemeran utama Julia Robert—membuat Liyer kian mendunia.

Jika kita diperhatikan, karena keterampilan ini pulalah banyak orang asing bisa bekerja di negeri kita. Dan demikian pula banyak pekerja-pekerja kita mampu diterima bekerja di perusahaan-perusahaan asing baik di dalam maupun di luar negeri. Keterampilan adalah fungsi dari praktik dan pengalaman. Bila kita ingin menjadi seorang yang terampil, maka kembangkanlah bakat yang dimiliki dengan berlatih tiada henti seperti yang dilakukan oleh orang-orang hebat di atas.

Pak Gede Prama dalam acara Kick Andy di Metro TV yang membahas buku Laskar Pelangi, mengatakan bahwa ketika beliau di SMA, ia sempat membaca sebuah tulisan yang menyatakan bahwa yang akan menyelamatkan hidup bukanlah pendidikan, melainkan keterampilan. Itu sebabnya beliau menekuni secara terus-menerus keterampilan menulis sejak dari SMA sampai sekarang. Keterampilan menulis Pak Gede Prama sungguh luar biasa, dan telah menginspirasi banyak orang untuk berbuat baik.

Dalam istilah Bali, orang yang telah mencapai profesionalitas di bidangnya dikatakan “metaksu”. Metaksu di sini maksudnya adalah keahlian yang telah mampu memberikan manfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Bila ia seorang penari, maka ia telah mampu memukau penonton sehingga penonton itu puas dengan penampilannya. Bila dia seorang sangging (baca: ahli bangunan) yang telah metaksu, maka dia mampu melahirkan karya-karya yang mengundang decak kagum siapa pun yang melihat kreasinya. Bila dia seorang pembicara publik, maka kata-katanya mampu menginspirasi orang banyak untuk berbuat baik.

Keterampilan hanya bisa diraih dengan kerja keras, berlatih tiada henti, dan belajar tanpa kenal lelah. Tidak mengherankan jika Babe Dirikson Zaharias, seorang atlet berprestasi dari Amerika, mengatakan bahwa ”The formula for success is simple: practice and concentration then more practice and more concentration.” Rumus untuk sukses sederhana: berlatih dan konsentrasi dan berlatih lagi dan konsentrasi lagi.

Bagaimana kita bekerja agar meraih hasil tertinggi? Krishna menasihati: “Oleh karena itu, tanpa keterikatan, lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan, karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih seperti itu membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi” (Bhagavad Gita III-19).

Ketika kita bekerja dengan pamrih maka kita akan mudah terombang-ambing, karena jika hasilnya kurang baik maka kita akan bersedih, dan jika hasilnya bagus kita bergembira. Namun jika kita bekerja tanpa pamrih, dan konsentrasi pada cara melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin serta menyerahkan hasilnya pada Tuhan Yang Maha Esa, maka sudah barang tentu kita tidak akan terombang-ambing oleh kedukaan. Karena apa pun hasilnya, itulah hasil yang terbaik yang bisa kita dapatkan saat itu.

Untuk mengakhiri karya kecil ini, perkenankan saya mengutip ungkapan Vince Lombardi: The price of success is hard work, dedication to the job at hand, and the determination that whether we win or lose, we have applied the best of ourselves to the task at hand. Harga dari sebuah kesuksesan adalah kerja keras dan dedikasi terhadap pekerjaan yang dihadapi, dan sebuah tekad bahwa (tidak peduli) apakah kita menang atau kalah, kita telah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk tugas tersebut.

Sumber: Buku: Titik-Titik Air di Padang Pasir, Made Mariana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s